Bumi & iklimPracetakEksperimen3 menit baca

SINAR KOSMIK YANG MERASAKAN PASANG SURUT

Ketika sinar kosmik dari luar angkasa menghantam atmosfer, terbentuklah partikel yang disebut muon, yang menghujani permukaan tanah. Muon cukup tangguh untuk menembus lapisan batuan atau air yang tebal. Tangguh, tetapi tidak kebal: makin banyak materi yang harus ditembus, makin sedikit yang berhasil lolos. Hitung muon yang tiba di bawah gunung, piramida, atau gunung api, maka Anda bisa menghitung berapa banyak massa di atas Anda. Inilah muografi.

Mengikuti benda besar yang diam adalah satu hal. Mengikuti massa yang berubah hanya beberapa meter, jam demi jam, menuntut presisi yang jauh lebih tinggi — dan fluks muon juga naik-turun mengikuti suhu dan tekanan udara. Sebuah tim dari Chung-Ang University di Seoul menemukan uji yang ideal: laut itu sendiri.

Terowongan di bawah pasang surut

Terowongan Bawah Laut Boryeong, di Korea Selatan, membentang 6,9 kilometer di bawah laut lepas pantai barat Korea. Pasang surut di sana naik-turun sekitar 4 meter. Di satu titik di sepanjang terowongan, stasiun 5593, batuan di atasnya paling tipis — 26 meter — dan air lautnya paling dalam, 33,8 meter. Di sanalah tim memasang detektornya.

Detektornya sederhana: dua panel plastik berukuran satu meter kali setengah meter, ditumpuk dengan jarak 42 sentimeter. Muon yang menembus kedua panel meninggalkan kilatan cahaya di masing-masing panel. Detektor bekerja tanpa henti selama 31,6 hari, dari 11 Agustus hingga 12 September 2025, dan merekam sekitar 1,9 juta muon — kira-kira 2.500 per jam.

Hitungan mengikuti laut

Jumlah muon per jam naik dan turun seirama dengan pasang surut, sebagai bayangan cermin permukaan laut: air pasang, muon lebih sedikit; air surut, lebih banyak. Korelasinya dengan alat ukur pasang surut resmi, yang berjarak 6,6 kilometer, kuat (r = −0,85).

  • Setiap tambahan satu meter air laut di atas detektor menurunkan jumlah muon sebesar 1,72 persen. Simulasi komputer terowongan itu memprediksi 1,89 persen per meter, mendekati hasil pengukuran.
  • Irama dominan berulang kira-kira setiap 12 setengah jam — pasang utama yang digerakkan Bulan. Siklus dua mingguan antara pasang kuat dan lemah juga terlihat.
  • Selama pasang terkuat bulan itu, hitungan naik hampir 9 persen di atas rata-rata: sekitar 5 meter lebih sedikit air di atas, selama beberapa jam.
  • Menambahkan tekanan dan suhu udara ke dalam model tidak mengubah apa pun secara terukur. Sinyalnya berasal dari air.

Tim itu juga membawa detektor portabel yang sama menyusuri seluruh terowongan, sepuluh kali. Jumlah muon turun di bawah bagian tengah yang paling dalam dan pulih kembali menuju kedua pintu masuk. Model yang hanya memperhitungkan batuan tidak bisa mereproduksi profil itu; air laut harus disertakan.

Tujuh menit lebih awal

Satu detail mengejutkan dalam analisisnya: detektor mencatat setiap pasang sekitar 7 menit sebelum alat ukur pasang surut Boryeong (selisih 2,6 sigma). Dibandingkan dengan enam alat ukur di sepanjang pantai, keterlambatan itu mengikuti garis lintang. Jika dibentangkan sepanjang 6,6 kilometer, angka itu setara dengan pasang yang bergerak sekitar 16 meter per detik, yang menurut para penulis konsisten dengan pasang yang merambat di perairan pantai yang dangkal.

Menimbang alih-alih mengukur

Alat ukur pasang surut mencatat ketinggian air di satu titik. Muon melakukan sesuatu yang berbeda: mereka menimbang seluruh kolom materi di atas detektor. Para penulis mengusulkan langkah berikutnya — merekonstruksi arah setiap muon untuk membedakan perubahan massa total dari perubahan letak massa itu. Di luar pasang surut, sistem alami apa pun yang bebannya bergeser dari waktu ke waktu dapat diamati dengan cara yang sama, dari bawah, tanpa menyentuhnya.

Legal notice